Manusia dan Suara

Istimewa

Sudah terlalu lama keadaan hidup memaksaku jauh dari musikku dan tulisan-tulisanku. Akhir-akhir ini leherku hampir selalu terasa tegang, lengan kiriku (tangan utamaku sebagai seorang kidal) hampir selalu pegal. Dalam hati aku tahu, ini adalah pertanda emosi yang membeku, tertahan seperti air yang berada dalam pipa yang mampet. Semua itu perlu dicairkan, dikeluarkan (sekarang intepretasiku pada hampir segala hal tak pernah lepas dari pengaruh keilmuan psikologi, bidang yang aku dalami). Melodi yang tercipta hanya diabadikan lewat senandungku sehari-hari dan kata-kata yang berlompatan di dalam benak seperti mendorongku untuk mencari jalan keluar. Hari ini, setelah sekian lama, lewat blog ini, aku mulai membiarkan energi itu keluar lewat sebuah lubang kecil : tulisan ini.

Siang ini, jariku menari-nari membuka blog lama, sesudah mata tertutup sejenak. Selagi menutup mata, banyak suara-suara yang kudengar. Bunyi mesin las yang menggambarkan kerja keras tukang renovasi gedung kampusku, suara azan yang mengingatkan untuk melepas penat ini di pangkuan Ilahi, musik new age dari salah satu penyanyi favoritku, Enya. Mestinya semua ini adalah keributan, tetapi anehnya terasa harmonis di telingaku. Sebab manusia memang begitu, kompleks. Harus berjalan di jalur yang bercabang-cabang dalam satu waktu, belum lagi kalau salah satu jalur buntu sehingga ia harus berputar-putar mencari jalan lain. Begitu juga aku saat ini.

Selagi menutup mata, pikiranku melayang pada melodi-melodi yang harus kususun menjadi satu lagu utuh, melayang pada penggalan-penggalan dongeng yang harus kurangkai menjadi satu cerita utuh. Ketika kubuka mata dengan perasaan “kepenuhan”, yang bisa kulakukan saat ini, di waktu senggangku yang tak banyak, hanyalah membiarkan Enya tetap bernyanyi (kali ini sudah sampai pada lagu Wild Child) dan mengetik tulisan ini tanpa berpikir panjang.

SEBUAH PERSINGGAHAN

Tag

Matahari  masih menggantung jingga kecoklatan di langit, seperti lampion, bagaikan warna para pertapa yang bersiap menyambut hari suci Waisak.

          Sementara itu, kakiku sudah diganggu oleh beberapa ekor lalat di bawah tempat duduk terminal. Ya, pagi itu aku sudah memutuskan untuk membiarkan diriku terbawa angin keluar dari kota kecil tempatku bekerja.  Entah bagaimana perjalanan itu nantinya, sebab tak ada rencana pasti. Yang aku tahu hanyalah pergi begitu saja.

          Siang menyambut di kota yang lalu lintasnya semrawut. Demi mencari tenang, kuletakkan ranselku di sebuah penginapan di pusat kota dan melangkah menuju kota tua. Aku selalu suka menuju sudut berumur dari sebuah kota, karena masa lalu selalu membuatnku sentimentil, terhanyut dengan romantika seolah aku pernah hidup disitu sebelumnya. Begitulah setiap manusia, seberapa keras pun kau melarang mereka untuk tidak menoleh ke masa lalu, mereka akan tetap menjalani kilas balik itu. Bukankah kita semua suka? Walaupun ini bukan tempatku dilahirkan, kota tua ini mengingatkan aku tentang masa laluku. Tentang kehilangan. Tentang lubang hitam yang menganga di dalam jiwa, dimana segala kenangan terhisap ke dalamnya, dan tanpa siapapun yang tahu dengan pasti, termasuk aku, apa yang ada dibalik lubang hitam itu. Aku selalu berharap ada keindahan di baliknya. Seperti surga, seperti Tuhan.

          Saat melihat lukisan klasik yang bergambar landscape pemandangan beserta orang-orang di dalamnya, aku ingat pernah berkhayal untuk masuk ke dalam lukisan itu. Lukisan landscape sejenis yang terpampang di dinding rumahku selama sekian puluh tahun. Dan barusan saja, aku bermimpi benar-benar memasukinya. Masuk ke dalam lukisan, menjelajahi hutan, dan tiba di lapangan terbuka dimana padang rumput dan hewan unggas berkeliaran. Dunia yang tak berujung, dan aku tersesat di dalamnya selama-lamanya. Pencarian akan sebuah akhir yang tidak akan ada habisnya.

          Sebuah tangan menepuk bahuku, menarikku kembali ke dunia nyata. Ya, dengan kaulah aku bercakap saat itu, di dalam sebuah toko eskrim dan kue khas dari jaman kompeni. Di dalam sebuah bangunan yang menolak untuk hancur termakan waktu, masih tegak dengan pongah seperti penjajah. Dengan kaulah, aku melanjutkan perjalananku.

          Perjalanan, walaupun gagal mencapai tempat yang diinginkan kali ini, tetaplah sebuah perjalanan. Pada akhirnya, perjalanan ini bukanlah tentang seberapa jauh jarak yang ditempuh, tapi seberapa dalam kau dan aku saling mengenal satu sama lain. Karena kita, manusia, itu seperti cermin. Dengan mengenalmu maka aku jadi mengenal diriku sendiri. Aku melihat diriku melalui dirimu.

          Dan semua proses menuju kedalaman ini akhirnya mengingatkanku pada satu firman…

“barangsiapa yang mengenali dirinya, niscaya dia akan mengenali Tuhan-nya.”

Para Pemintal Sejarah

Tag

jejak sejarah       Para pemintal sejarah, pernahkan terbayangkan oleh kalian, hidup kalian yang berkubang lumpur memburuh peluh saat awal peradaban telah menciptakan manusia rapi, bersih, dan mulia yang merajut hikmah dari kisah kalian? Pernahkah terbayangkan, hari peringatan akan kalian telah ditetapkan atas nama kisah cinta sejati yang menyuarakan kasih tanpa batasan?

        Bermunculan dari ranah apapun, para pemintal sejarah menerobos terowongan zaman. Mereka terlihat seperti orang sinting yang dicerca, tapi kemudian dipuja sampai beratus tahun setelah jasad berkalang tanah.

            Manusia banyak belajar dari masa lalu, wahai para pemintal sejarah. Lihatlah, dunia tak pernah sama, namun mengundang miris dan haru yang serupa. Tiap-tiap masa punya perjuangannya sendiri-sendiri, dan kami pun juga begitu.

      Kami perlahan menjadi pemintal sejarah untuk masa depan, bagaimanapun bentuknya. Di masa itu nanti, orang-orang akan berhenti dan mengambil gambar di depan monumen tentang kami, berdiri dan menengadah melawan silau matahari untuk melihat wajah-wajah yang terpahat pada patung diri kami. Menciptakan para profesor dan pembelajar dari kisah kami. Begitu terus. Dan perjuangan dimulai lagi dari sana, oleh manusia yang tidak akan pernah kami lihat lagi.

        Maka hidup ini adalah pergerakan melingkar, sebab lingkaran tak punya ujung. Seperti atom, seperti tata surya. Because we always start all over again right after every end. Sampai Tuhan memutuskan bahwa akhir itu adalah benar-benar sebuah akhir.

Pria Loket

Tag

          Alkisah waktu itu, hari sudah gelap dan hujan turun. Dengan malas aku bangkit dari kursi dan mengalihkan pandangan dari laptop ketika seorang partner kerja hendak mengenalkan aku denganmu. Dan makin malas lagi ketika kau dengan acuh tak acuh menjabat tanganku dan menyebutkan sebuah nama. Nama yang aneh dan susah untuk diingat. Tak kulihat dengan jelas wajahmu dibawah temaram cahaya, karena listrik sedang padam. Sekarang pun sedang hujan dan listrik padam, oleh karena itu aku sekonyong-konyong teringat saat-saat itu. Begitulah kau pada waktu itu, nama dan raga yang kabur, seolah tertutup kabut asap rokok yang kemudian aku lihat sering mengepul dari rongga mulutmu.

         Akan tetapi tidak sama dengan siang hari. Dari jendela ruang tempatku berjibaku dengan imajinasi yang terangkai di layar monitor, dapat kulihat dengan jelas kau mondar-mandir dengan sama acuh tak acuhnya, seolah dunia ada di bawah kendalimu. Atau itu kau lakukan untuk menutupi kompleksitas masalah dalam hidupmu? Lewat jendela itu pula aku terhubung denganmu, tetapi sungguh susah berkomunikasi dengan jendela yang membatasi. Sehingga momen itu mengingatkan aku pada saat berurusan dengan petugas loket. Maka ku bayangkan kau menjelma menjadi petugas loket, dan aku adalah orang yang membutuhkan karcis.

             Petugas loket itu dapat menyenangkan dan menyebalkan seenak perutnya, tapi dia punya sesuatu yang aku butuhkan. Dia tahu itu, maka semakin menjadilah kelakuannya. Karena aku datang ke loket dengan misi mendapatkan karcis yang dikuasainya, maka aku berusaha bersabar. Terkadang aku berbicara dengan suara yang lebih keras dan pupil mata terfokus pada celah loket untuk melihat sosoknya, supaya tersampaikan dengan jelas maksudku. Kesusahan untuk terhubung dengan kaca loket yang membatasi membuatku terkadang ingin memecahkannya. Bukankah kau juga begitu?  Tapi tentu saja tidak. Sebentuk ego mengatakan bahwa itu tidak bisa terjadi karena kau punya tanggung jawab sebagai petugas, dan aku punya tanggung jawab sebagai anggota masyarakat yang beradab.

               Kau tahu, pria loket, sebenarnya siapapun bisa memecahkan kaca itu. Aku, kamu, kita bersama-sama, atau bahkan orang lain di dalam antrian yang sudah muak melihat kita yang terlalu lama bernegosiasi. Agar yang tak bisa dijangkau menjadi bisa disentuh. Agar lepas berhamburan semua kepingan rasa beserta semua konsekuensinya.

      Entah kapan waktunya, entah kaca itu pecah atau tidak, hai kau pria loket…terimakasih sudah menorehkan warna diatas kanvas abu-abu hidupku. Teruslah begitu.

Al-Ashr (demi masa…)

Tag

Waktu…

Betapa cepatnya ia berlalu, membuat kau merasa dicambuk dari belakang, sehingga kau pun harus berlari tanpa henti. Tidak jarang dengan insting binatang yang terdesak kau mengambil arah apa pun ketika bertemu persimpangan dalam hidup.

Waktu…

Betapa ia juga bisa melambat, sehingga kau seperti lupa diri karena menikmati keindahan yang tadinya luput saat kau berlari, sehingga kau pun tidak menyadari bahwa ternyata kau tidak pernah maju, hanya berdiri di tempat dan terlena dengan keindahan itu.

Tidak ada peredaran benda-benda angkasa yang bisa menunjukkan bagaimana sifat waktu, paling paling hanya bisa menyuguhkan siang dan malam. Soal jam, hari, bulan dan tahun, itu juga tidak lebih dari hasil kesepakatan manusia, karena manusia senang menerapkan batasan. Waktu lebih dari sekedar itu semua. Ia pun akan terus bergerak dan tidak akan berhenti, tidak peduli apa pun yang terjadi.  Namun, ia akan selalu memberi kesempatan bagi setiap nurani yang mau mengenalnya. Dan seketika itu juga semua sudah berada pada tempatnya, tepat saat kau merasa : “sudah waktunya”.

Seribu Wajah Cinta (Pencerahan)

Tag

Sepulang dari bekerja, tiba-tiba aku merasa lelah sekali. Badanku mulai hangat, pertanda demam. Maka kurebahkan badanku di atas pembaringan. Ruangku terasa lapang, namun batin mengeluh sesak. Seketika aku berpikir, “bukan, demam ini bukan karena lelah setelah bekerja.” Kemudian seribu pikiran dan perasaan, yang sudah terikat erat bagai sepasang kekasih, mulai merangsek masuk. Maka inilah kata-kata yang keluar dan beterbangan ke angkasa raya…

Cinta itu adalah sebuah energi. Seperti hukum fisika, energi itu tidak dapat dimusnahkan, hanya bisa berubah dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain. Kalau diinterpretasikan secara dangkal, cinta itu selalu membuat kita tersenyum, tertawa, bahagia. Akan tetapi ada saat-saat di dalam hidup ketika kita merasa sedih, marah, takut. Kita juga bisa merasa kecewa, putus asa, susah. Pada saat seperti itu, kemana cinta pergi? Akankah kita bisa hidup tanpa energi?

Cinta tidak pergi kemana-mana, sebab segala yang hidup di alam semesta ini tetap bertahan, tumbuh dan berkembang karena cinta. Tidak ada yang tetap seperti itu tanpa cinta. Mengapa sekarang ini keadaan dunia begitu kacau balau dan sepertinya akan segera berakhir? Karena manusia tidak mencintainya.

Hanya saja ada seribu wajah cinta. Kita bisa mengenalinya lewat tanda-tanda. Jadi. Ketika engkau merasa kecewa, putus asa dan susah, jangan buru-buru berteriak-teriak bahwa hidup ini menyebalkan, selamanya kau akan berduka, menyerang semua yang kau anggap brengsek, dan menjadi sinis dengan segala-galanya.  Ketika semua perasaan itu seperti menyerbu dirimu selama sehari, dua bulan, atau bertahun-tahun………..tapi kemudian engkau (malah) menjadi manusia yang lebih pemaaf, pengasih, dan penyayang karenanya…………itulah cinta. Namun jika kau tidak berusaha mengenali cinta yang bersembunyi di balik topeng-topeng ini, kau akan terperangkap di dalam kubangan penderitaan itu selama-lamanya. Maka musibah apakah yang lebih berat daripada itu? Karenanya diam, diamlah dulu. Perhatikanlah tanda-tanda kehadirannya. Cinta itu ada, dan DIA adalah cinta. DIA ada untukmu.

“Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati.” Q.S Al-Insaan (Manusia) : 11.

Liquid of happinness fall in synchronized crying. Dari pembaringanku, kudengar tiba-tiba saja hujan turun, seiring demamku yang juga mulai turun. Kesialan berhamburan lepas dari jiwaku, dan rahmat-NYA sedang menyirami ibu Bumi yang mendekapku dengan penuh kasih.

(Citra, Friday February 18th 2011)

Dongeng Kucing Pasar

Tag

Aku perkenalkan padamu, seekor kucing pasar dengan bekas-bekas luka. Suatu hari dia datang ke dalam hidupku dengan tatapan yang sulit kutebak maknanya. Tapi aku tahu satu hal, dia lapar. Lalu aku membatin, “mau kuisi dengan apa ruang kosong yang membuatmu kelaparan?” Tapi aku tidak tahu dengan bahasa apa aku mengungkapkan pertanyaanku.

Kuikuti kemana langkahnya pergi, menyusuri pasar yang dipenuhi orang berwarna-warna. Diantara putih dan hitam. Diantara kaya dan miskin. Diantara lembut dan beringas. Diantara malaikat dan setan.  Aku memperhatikan bagaimana dia terhubung dengan semua yang kulihat di pasar itu. Dituntunnya aku untuk menemukan sebentuk kesadaran diantara kehidupan, bahwa tidak semua yang terlihat baik itu adalah benar. Skeptis memang, tapi begitulah adanya. Kali ini aku yang datang ke dalam hidupnya, dengan tatapan berjuta makna seperti yang dia punya.

Kucing pasar dengan bekas-bekas luka terbiasa hidup dengan cara apapun, demi mengisi ruang kosong itu. Tapi bukankah kita semuanya demikian?  Berjalan dengan angkuh seolah tidak membutuhkan apapun, tapi dia butuh. Maka kuisi ruang itu, dengan apa saja yang bisa aku pungut dari jiwa dan ragaku. Dia menatapku, tersenyum, dan melakukan hal yang sama.

Aku selalu ingat ekspresi tidak suka ketika ia melihatku menyisakan makanan di piringku. Sebab dia sangat menghargai makanan, sesuatu yang membuat raga terus bertahan, sesuatu yang diperjuangkan kaum papa yang tak henti-hentinya mengolah tanah. Jerih payah yang tidak dipedulikan oleh orang-orang brengsek (bukan, bukan kamu. Kamu tidak brengsek).

Satu pelajaran yang bisa kubagi denganmu. Jika kamu memutuskan untuk memelihara kucing pasar, jangan mengurungnya seperti  layaknya kucing rumahan yang baik hati. Sebab dia terbiasa bebas untuk datang dan pergi. Jangan pula bersedih saat dia hilang dari pandanganmu. Karena ketika di lehernya terikat kalung takdir berukir namamu, maka dia akan selalu kembali padamu.

Kini, aku dan kucing itu saling menanyakan hal yang sama. “Mau kuisi dengan apa ruang kosong yang membuatmu kelaparan?”. Jawabannya terdengar nyaring tanpa suara: “inilah hidup kita, jalani saja”.

Surat Cinta Dari Masa Silam

Tag

Tidak sedang berteori, hanya mengungkapkan perasaan, dan sesungguhnya hanya ALLAH yang berkuasa atas hatiku.

Pengakuan. Satu kata saja dan hatiku mulai bersuara dengan ramai.

Aku jadi teringat salah satu serial kesukaanku, Little House On The Prairie. Salah satu episodenya pernah bercerita tentang ibunya Laura yang mesti mengajar sementara sebagai guru pengganti di sekolah Laura. Pada saat ia mengajar di kelas, tak seorang muridpun mempedulikannya, bahkan melemparinya dengan kertas bekas. Waktu itu pelajaran mengeja kata dan ibu Laura menjadi marah karena sikap anak-anak itu. Satu ucapannya yang sangat aku ingat walau waktu itu aku masih kecil. “Apa diantara kalian ada yang bisa mengeja kata C-O-M-P-A-S-S-I-O-N?!” Ia menuliskan kata itu dengan kapur di papan tulis dan keluar dari kelas. Murid-murid terdiam. Yes, compassion. Bukan masalah pelajaran mengejanya, tapi apakah murid-murid punya rasa belas kasihan yang cukup untuk melawan ketidakpedulian di dalam diri mereka.

Bagaimana kepedulian bisa sangat penting? Ada penelitian yang pernah dilakukan oleh satu keluarga di Jepang. Mereka meletakkan tiga buah toples berisi nasi di rumahnya. Toples pertama ditempeli label “kamu pintar”, toples kedua dilabeli “kamu bodoh”, dan toples ketiga tidak dilabeli apapun. Setiap hari anggota keluarga itu berbicara pada nasi-nasi itu satu persatu. Toples pertama selalu diberi pujian, toples kedua selalu diberi makian, sedangkan toples ketiga tidak dipedulikan sama sekali. Tebak nasi di toples mana yang lebih cepat basi dan membusuk? Toples ketiga, yang tidak dipedulikan. Air yang terkandung di dalam nasi yang bereaksi seperti itu. Sebagian besar tubuh manusia terdiri atas air juga. Bahkan lebih baik dimaki daripada tidak dipedulikan.

Kamu tahu kan buku yang judulnya “A Child Called It”? Bagaimana David kecil dipanggil it, karena ibunya tidak peduli, bahkan tidak mengakui keberadaannya dengan memanggil dia “it”? Benda mati. Tapi David berjuang untuk memperoleh pengakuan, karena tidak ada satu manusiapun yang sanggup hidup tapi tidak dipedulikan.

Begitulah, manusia yang tidak dipedulikan akan mati pelan-pelan. Ketidakpedulian dari orang lain akan menggerogoti jiwanya, kemudian tubuhnya, perlahan-lahan dengan cara yang sangat menyakitkan. Ketidakpedulian adalah tindakan yang sangat kejam yang sanggup dilakukan oleh seorang manusia kepada makhluk hidup manapun, bahkan bukan karena makhluk lain akan mati pelan-pelan, tapi karena dapat mengubah manusia lain menjadi sama kejamnya dalam usahanya untuk memperoleh pengakuan. How come?

Tapi seperti David, I prefer die try than do nothing, berjuang demi sebuah pengakuan akan eksistensiku, bahwa aku ini ada, karena mati pelan-pelan tidak ada gunanya. Aku pikir semua manusiapun begitu. Mungkin kamu lupa kalo aku sering mengirimkan setiap ucapanku dan berharap supaya kamu mengucapkan sesuatu padaku, bahkan hanya satu kata saja…but it’s over now, I’m just trying to be alright.

Saksikanlah Bahwa Ini Adalah Cinta Yang Murni

Saksikanlah bahwa ini adalah cinta yang murni, suci, yang datangnya dari ALLAH.

Sungguh malam itu aku menangis melihat engkau menunduk dan memaparkan nasibmu, takdir dan pelajaran dari Tuhan untukmu.

Semua karunia dan penderitaan akan membuat hidup mempunyai makna, sayang…

Berbahagialah…meskipun kadang terasa sulit meraihnya, tapi berjalanlah terus dengan senyum merekah.

Dan ketika rasa sulit itu datang, ingat…ingatlah aku.

Akan kukerahkan semua kemampuanku untuk membuat kebahagiaan itu datang padamu.

Sebab kebahagiaanmu adalah penyejuk jiwaku, kesedihanmu adalah kesakitan bagiku.

Bernyanyilah lagi, mainkan musik lagi, biarkan dunia mendengar suara hatimu!

Hiduplah sepenuh hati. Rasakan dunia dengan segenap inderamu, dengan segenap jiwamu

Sehingga aku akan merasakan hal yang sama sepanjang hidupku.

Doaku bagimu telah memenuhi langit yang luas hingga malaikat pun terpana.

Saksikanlah bahwa ini adalah cinta yang murni, suci, yang datangnya dari ALLAH.

Tak ada yang lain, hanya cinta saja.

(14 November 2008)

Belajarlah

Tag

Kalau ada saat malaikat merasa perlu menampar manusia supaya kesadarannya bangkit,
mungkin pagi ini adalah saat yang tepat untuk malaikat menamparku.
Sebab memang itulah yang terjadi.
Aku berlari terlalu kencang,dan mungkin terlalu buru-buru
sehingga aku terbawa arus dan kehilangan diri-sendiri.
Diri yang susah payah aku jaga.
Sebab aku adalah sasaran empuk para setan,justru karena aku tidak pernah mengalah pada mereka.
Aku adalah sasaran empuk para malaikat,justru karena aku keras kepala dan tidak mudah patuh.
Sekarang aku sedang memandang diriku sendiri dan berkata…
“Jangan kege’eran, merasa dirimu selalu disayangi Tuhan,betapapun kamu selalu merasa menyayangiNYA,sehingga kamu menjadi sombong dan merasa selalu diberi kemudahan.Kamu tidak akan pernah belajar jika demikian adanya.”
Aku merasa disayang sekaligus dibenci secara bersamaan oleh Tuhan
dengan caraNYA yang penuh misteri…
Aku telah ditampar oleh malaikat
dan aku senang.
(19 Februari 2009)